Wednesday, June 22, 2011

“Pokok Anggur yang Benar” Yohanes 15:1-8 (Bagian Pertama)


Pendahuluan

(Revisi pertama 27 November 2013, Revisi kedua 15 Januari 2014, Revisi ketiga 17 Maret 2014)


Saya membaca beberapa tafsiran tentang Yohanes 15:1-8, saya temukan ada beberapa tafsiran yang dibuat terhadap ayat-ayat tersebut.  Ada yang menafsirkan bahwa Yohanes 15:1-8 berbicara mengenai dua macam gereja, gereja sejati dan gereja palsu.  Gereja sejati selalu sukses dan Gereja palsu mengalami banyak kegagalan.    Yang lain berkata, bahwa ayat-ayat ini sedang membicarakan persekutuan yang menghasilkan jawaban atas doa.  Ada kuasa doa dalam persekutuan dengan Yesus.  Yang lain menafsirkannya sebagai usaha penginjilan yang berhasil. Murid Kristus sejati akan menghasilkan jiwa-jiwa baru! Tafsiran lainnya, persekutuan dengan Yesus menghasilkan buah Roh, dan satu lagi tafsiran, gereja Tuhan yang benar menghasilkan buah yang benar yaitu Karunia-karunia Roh (Kharismata). Begitu banyak tafsiran bukan? Apakah tafsiran-tafsiran itu atau satu di antaranya ada dalam pikiran Yesus dan murid–murid-Nya ketika ia mengajarkan kiasan ini?
Yesus baru saja menyelesaikan perjamuan dengan murid-muridnya, dalam perjalanan-Nya bersama murid-murid menuju sebuah taman di Bukit Zaitun, Getsemani.  Tiba-tiba dalam perjalanan itu Yesus berkata “Akulah Pokok Anggur yang Benar,...” Pokok Anggur yang Benar telah menjadi pengajaran Yesus yang terkenal.  Apakah ajaran ini dapat dipahami dengan benar oleh setiap orang yang membaca teks Yohanes 15:1-8.  Kita begitu sering membaca, mendengarkan khotbah dan bahkan mungkin kita sendiri mempersiapkan khotbah atau renungan dari bagian itu.  Tetapi apakah kita memahami arti Pokok Anggur yang Benar?

Untuk memahami ajaran yang terkandung dalam kiasan Pokok Anggur yang Benar, kita perlu memahami dua situasi yang menjadi alasan penulisan kisah Yesus ini.  Pertama, situasi Yesus ketika Ia menyampaikan pengajaran ini.  Dengan memahami situasi Yesus ketika Ia menyampaikan ajaran-Nya ini, kita akan dapat mengerti inti ajaran Yesus. Dan kedua situasi jemaat mula-mula yang menjadi penerima pertama atau pembaca pertama Injil ini.  Situasi-situasi ini akan menentukan makna di balik setiap kiasan dalam teks tersebut.  Selanjutnya latar belakang Yahudi dari ajaran Yesus adalah hal terpenting untuk memahami keseluruhan ajaran Yesus tentang Pokok Anggur yang Benar.

Situasi Yesus
Ketika Yesus dalam perjalanan menuju Getsemani, penolakan pemimpin-pemimpin Yahudi telah mencapai puncaknya.  Penolakan ini adalah satu dari beberapa ciri khas Injil Yohanes dan dapat kita lihat tersebar di seluruh Injil Yohanes, mulai dari pasal pertama ayat 11, “tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” penolakan tersebut terus meningkat seiring dengan peningkatan kesaksian “tanda-tanda” yang dibuat Yesus

Aku datang dalam nama Bapa-Ku dan kamu tidak menerima Aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia. (Yohanes 5:43)

Setelah pembangkitan Lazarus (Yohanes 11) yang merupakan puncak kesaksian kemesiasan Yesus, orang-orang Yahudi telah sepakat untuk membunuh Yesus.
Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa-apa,  dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa."  Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia. (Yoh 11:49-53)
Perhatikan kesimpulan akhir dari Injil Yohanes mengenai sikap orang-orang Yahudi terhadap mujizat-mujizat Yesus.

Dan meskipun Yesus mengadakan begitu banyak mujizat di depan mata mereka, namun mereka tidak percaya kepada-Nya, (Yohanes 12:37)

Dalam situasi puncak penolakan ini dan dalam perjalanan-Nya bersama murid-murid-Nya, Ia menghentikan percakapan murid-murid di tengah malam itu, “Akulah Pokok Anggur yang Benar,...”.  Tidak dijelaskan apakah mereka sedang melewati kebun anggur, atau karena baru saja minum anggur dalam perjamuan, yang pasti, pernyataan Yesus tersebut pasti dimengerti oleh murid-murid-Nya sehingga Yesus tidak memberikan makna kiasan tersebut kepada murid-murid-Nya.  Para murid juga tidak menanyakan makna kiasan tersebut.

Situasi Yesus membuat murid-murid-Nya sangat memahami makna kiasan tersebut.  Murid-murid tahu bahwa Yesus menghadapi penolakan-penolakan.  Jadi Yesus bermaksud menguatkan murid-murid-Nya untuk menghadapi kematian-Nya dan untuk menghadapi penolakan para pemimpin mereka sendiri dan besar kemungkinan juga penolakan dari masyarakat Yahudi. Itulah situasi Yesus ketika Ia menyampaikan ajaran terkenal tersebut di tengah-tengah perjalanan-Nya menuju Getsemani.  Situasi ini harus menjadi dasar penafsiran atas kiasan Yohanes 15.

Situasi Penulisan
Situasi lain yang juga harus menjadi perhatian kita adalah situasi ketika Injil ini ditulis, situasi para penerima Injil ini, atau jemaat yang menjadi para pembaca pertama.  Situasi tahun 90an (20an tahun sejak penghancuran Yerusalem oleh Jenderal Titus), ketika kekristenan berkembang dengan pesat dan menghadapi intimidasi dan pengucilan dari orang-orang Yahudi.  Orang-orang Yahudi, yang menganggap kekristenan sebagai satu sekte Yahudi, mulai merasa tersaingi, karena perkembangan yang luar biasa cepat.  Sudah sejak awal “sekte” ini ditekan oleh orang-orang Yahudi, tetapi jumlah orang Kristen mulai jauh meninggalkan jumlah orang-orang Yahudi.

Ketika jumlahnya semakin besar, orang-orang Yunani sudah bergabung.  Kekristenan sedang memasuki dunia Yunani dan kemudian iman mereka diterjemahkan ke dalam konteks Yunani.  Jemaat-jemaat Yahudi Kristen mulai memikirkan kembali iman mereka.  Selain karena perbedaan konteks Yunani-Yahudi dan tekanan anugerah yang kuat sementara tekanan hukum Taurat yang semakin menghilang dari dalam gereja.  Mereka juga mengalami intimidasi, pengucilan dan penganiayaan oleh orang-orang Yahudi, masyarakat mereka sendiri.  Yesus sendiri sudah memberitahukan tentang penganiayaan tersebut

Tetapi kamu ini, hati-hatilah! Kamu akan diserahkan kepada majelis agama (εἰς συνέδρια, Sanhedrin) dan kamu akan dipukul di rumah ibadat (εἰς συναγωγὰς, sinagoge) dan kamu akan dihadapkan ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja karena Aku, sebagai kesaksian bagi mereka. (Markus 13:9)

Penganiayaan orang Yahudi terhadap gereja juga tercantum dalam Injil Yohanes sebagai sebuah peringatan kepada gereja.

Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah.  Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu."  (Yohanes 16:2-4)

Tentu saja Yohanes menulis peringatan Yesus ini karena penganiayaan yang dialami gereja pada masa itu, penganiayaan dari pihak orang Yahudi.  Setelah tekanan dan penganiayaan yang mereka alami Mereka bertanya-tanya, masihkah mereka berada pada jalur yang benar?  Masihkah mereka termasuk dalam Israel, umat Allah? Pertanyaan-pertanyaan ini juga yang menyebabkan Yohanes menulis Injil ini, secara khusus ajaran Yesus yang dianggap penting ini. Injil ini sengaja ditulis untuk kepentingan jemaat, para pembaca pertama khususnya orang-orang Yahudi Kristen.

Kedua situasi ini menentukan pemahaman yang benar tentang ajaran Yesus ini. Ajaran yang sangat dipahami, baik oleh murid-murid Yesus maupun oleh jemaat Yahudi Kristen.  Mari kita membahas beberapa pokok pikiran penting dalam Yohanes 15:1-8.


Pokok Anggur yang Benar (15:1)


Sebuah pohon anggur terdiri atas pokok anggur dan ranting-ranting yang menjalar.  Di sebuah kebun anggur, biasanya pohon anggur dibuatkan tiang-tiang penyangga untuk ranting-rantingnya menjalar sehingga buah anggur akan tergantung.  Ketika kita membaca kiasan ini, kita menerawang memikirkan pohon anggur, dan mencoba memahami atau menafsirkan ayat-ayat ini berdasarkan pemahaman kita tentang sebuah pohon anggur. Tetapi apakah seperti itu yang dipikirkan dan dipahami para murid?

Para murid adalah orang-orang Yahudi dengan budaya dan pola pikir Yahudi.  Paradigma murid-murid juga dipengaruhi oleh Perjanjian Lama.  Mereka tahu kiasan pohon anggur berasal dari Perjanjian Lama.  dan mereka mengerti tentang kiasan pohon anggur tersebut.  Pohon anggur dalam Perjanjian Lama, terkenal sebagai kiasan bagi Israel.  Mereka tahu bahwa pohon anggur adalah lambang bangsa Israel.  Perhatikan ayat-ayat berikut,

9 Telah Kauambil pohon anggur dari Mesir, telah Kauhalau bangsa-bangsa, lalu Kautanam pohon itu. 10 Engkau telah menyediakan tempat bagi dia, maka berakarlah ia dalam-dalam dan memenuhi negeri; 11 gunung-gunung terlindung oleh bayang-bayangnya, dan pohon-pohon aras Allah oleh cabang-cabangnya; 12 dijulurkannya ranting-rantingnya sampai ke laut, dan pucuk-pucuknya sampai ke sungai Efrat....
....15-16 Ya Allah semesta alam, kembalilah kiranya, pandanglah dari langit, dan lihatlah! Indahkanlah pohon anggur ini, batang yang ditanam oleh tangan kanan-Mu!  Mazmur 80:9-12, 15-16
Sebab kebun anggur TUHAN semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanam-tanaman kegemaran-Nya;... (Yes 5:1-7a)
Orang-orang Yahudi memahami benar bahwa pohon anggur adalah lambang Bangsa Israel.  Sama seperti kita memahami Burung Garuda sebagai lambang bangsa Indonesia.  Jika kita berkata “garuda-garuda muda tengah berjuang mengharumkan nama bangsa dalam pertandingan bulutangkis internasional itu,” kita sangat memahami bahwa yang dimaksud dengan garuda-garuda muda adalah pemuda-pemuda Indonesia yang sedang bertanding.  Tidak diperlukan penafsiran yang berbelit-belit untuk memahaminya bukan?  Philo menulis, "The vineyard of the Lord Almighty is the house of Israel."[1] Pohon anggur sangat populer pada masa itu sebagai lambang Israel.  Begitu juga murid-murid Yesus sudah sangat biasa memahami pohon anggur sebagai lambang bagi Israel.  Setiap hari mereka melihatnya pada pintu gerbang Bait Allah mereka.  Josephus menjelaskan bahwa gerbang Bait Allah dihiasi dengan ukiran pohon anggur emas dengan ranting-rantingnya yang tergantung.
The temple had doors also at the entrance, and lintels over them, of the same height with the temple itself. They were adorned with embroidered veils, with their flowers of purple, and pillars interwoven;  and over these, but under the crown work, was spread out a golden vine, with its branches hanging down from a great height, the size and fine workmanship of which was a surprising sight to the spectators, to see what vast materials there were, and with what great skill the workmanship was done. (Antiquities 15:394-395).[2]  
Pemimpin pemberontakan pertama Bangsa Yahudi (67-68 AD) menerbitkan mata uang coin dengan gambar daun pohon anggur. Sedangkan Simeon Bar Kokhba, pemimpin pemberontakan kedua bangsa Yahudi (132-135 AD), kepala negara Yahudi yang dianggap "mesias" oleh para pemimpin bangsa Yahudi menerbitkan mata uang Yahudi yang disebut “Judaea Capta” [3] dengan gambar buah anggur[4] dan tulisan “Tahun kedua kemerdekaan Israel”[5] tidak ada penjelasan mengenai hubungan buah anggur dengan pemberontakan atau kemerdekaan bangsa Yahudi tersebut.  tetapi jelas adanya hubungan "mesias", bangsa Israel dan buah anggur. 

Pohon anggur dan buah anggur menjadi lambang bangsa yang sudah mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari bangsa Yahudi.  Jadi ketika Yesus berkata, “Akulah Pokok Anggur...”  murid-murid-Nya memahami hal itu.  Dalam pemahaman mereka Yesuslah Pokok dari “Pohon Anggur” Israel, Yesuslah Mesias yang dinanti-nantikan bangsa Israel.  Tetapi pernyataan Yesus tidak berhenti sampai pada ”Akulah pokok Anggur,...”  Yesus berkata “Akulah Pokok Anggur YANG BENAR”.  Dapat dikatakan bahwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, Akulah Pokok dari Pohon Anggur Sejati, Jika demikian, inilah klaim Yesus, “AKULAH POKOK DARI ISRAEL SEJATI”.

Situasi Yesus, yang sedang mengalami penolakan dari para pemimpin Yudaisme dan perjalanan-Nya menuju salib, mengharuskan-Nya mempersiapkan murid-murid untuk memahami penyaliban-Nya dan menghadapi penolakan pemimpin-pemimpin mereka sendiri.  Ajaran tentang Yesus sebagai Pokok dari Israel Sejati ini menguatkan murid-murid-Nya untuk semakin dalam memercayai Yesus.  Dan secara khusus menguatkan keyakinan mereka bahwa Yesuslah Mesias yang sedang dinanti-nantikan bangsa Israel.  Jadi sekalipun mereka mengalami tekanan dan ada indikasi juga pengucilan dari masyarakat Yahudi, mereka tetap memercayai bahwa Yesus adalah Sang Mesias yang diutus Allah!

Bagaimana dengan situasi jemaat penerima Injil ini atau para pembaca pertama?  Situasi mereka juga menentukan makna kepentingan ajaran Yesus bagi mereka!  Yesus mengatakan bahwa Dialah “Pokok dari Israel Sejati”.  Pertikaian Yudaisme dan Gereja pada tahun-tahun penulisan Injil ini membuat orang-orang Yahudi Kristen memikirkan kembali status mereka.  Apakah mereka masih dalam jalur yang benar?  Apakah mereka masih termasuk Israel, Umat Allah? Yudaisme berusaha menghambat gereja yang mereka anggap sebagai satu sekte saja dari agamaYahudi (Kisah 24:14).  Tetapi gereja yang mendapat tekanan terus menyebar dan berkembang dari segi jumlah.

Pertikaian ini mengingatkan Yohanes untuk menulis ajaran Yesus yang terkenal ini “Akulah Pokok Anggur yang Benar”  dan klaim ini berarti “Yesuslah Pokok Israel Sejati!  Dan gereja yang dianiaya menyebarkan klaimnya “Kamilah Israel Sejati!” 

Klik di sini untuk langsung menuju ke Bagian kedua


Pdt. Daniel H. Herman, M.Th.
Dosen Bidang Studi Perjanjian Baru pada STT Kalimantan Pontianak 

[1] Philo, De Somniis 2:172, dalam BibleWorks 9, peny. um. Michael Bushell, [program komputer]. (Norfolk, VA: BibleWorks, 2011)
[2] Penebalan huruf ditambah untuk penekanan. Flavius Josephus, “Antiquities 15:394-395”, The Works of Flavius Josephus, Whiston English Translation, dalam BibleWorks 9, peny. um. Michael Bushell, [program komputer]. (Norfolk, VA: BibleWorks, 2011)
[3] Charles Ludwig, Para Penguasa pada Zaman Perjanjian Baru, pen Lili Rustandi, peny. Ridwan Sutedja, cet 6.  (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2007), 138-44
[4] Gambar diunduh dari (http://www.wildwinds.com/coins/greece/judaea/t.html) Hendin_681cf
[5] Ludwig, Para Penguasa pada Zaman Perjanjian Baru, 142
Protected by Copyscape Duplicate Content Checker

Jika ingin memiliki artikel-artikel dalam blog ini harap hubungi
danielhherman.lectures@gmail.com

Get Widget